Raising Indonesia's Industrial Competitiveness
Kian Thee
Economics and Finance in Indonesia, 2000, vol. 48, 35-61
Abstract:
Berbagai kajian oleh lembaga-lembaga konsultasi internasional dan peneliti Indonesia maupun asing telah mengungkapkan bahwa kemampuan teknologi industri kebanyakan perusahaan manufaktur Indonesia, termasuk BUMN, kurang memadai. Oleh karena ini daya saing internasional kebanyakan perusahaan manufaktur Indonesia juga kurang memadai untuk bertarung di pasaran internasional. Untuk memahami mengapa kemampuan teknologi kebanyakan perusahaan manufaktur Indonesia kurang memadai, perlu dikaji kemampuan teknologi nasional (KTN) Indonesia, karena KTN ini menentukan lingkungan ekonomi eksternal maupun pasokan sumber daya produktif yang secara positif atau negatif mempengaruhi keputusan pimpinan perusahaan apakah mengadakan investasi dalam pengembangan kemampuan teknologi perusahaan tersebut menguntungkan atau tidak. KTN sesuatu negara terdiri atas tiga faktor utama, yaitu sistem insentif, kemampuan, dan lembaga-lembaga. Interaksi antara ketiga faktor utama ini akan menentukan hasrat dan kemampuan perusahaan manufaktur untuk mengem-bangkan kemampuan teknologi mereka dalam rangka peningkatan daya saing. Penilaian KTN Indonesia mengungkapkan, bahwa sistem insentif yang dihadapi perusahaan-perusahaan Indonesia pada umumnya belum cukup kondusif untuk mendorong pengembangkan kemampuan teknologi mereka. Meskipun kebijakan ekonomi makro selama era Soeharto pada umumnya cukup baik, namun ke-bijaksanaan niaga dan terutama kebijaksanaan persaingan domestik kurang baik. Dengan reformasi dalam kebijaksanaan niaga serta kebijaksanaan persaingan domestik yang telah dilakukan pemerintah dalam rangka persetujuan dengan IMF, diharapkan bahwa sistem insentif yang dihadapi perusahaan-perusahaan manufaktur Indonesia lebih kondusif untuk mendorong peningkatan efisiensi dan daya saing mereka melalui upaya pengembangan kemampuan teknologi. Tinjauan tentang KTN mengungkapkan, bahwa investasi dalam modal fisik maupun modal insani cukup mengesankan, meskipun upaya teknologi, seperti tercermin pada pembiayaan dan pelaksanaan kegiatan Litbang, masih kurang memadai dibanding dengan negara-negara tetangga Indonesia. Demikian pula peranan lembaga-lembaga, khususnya lembaga- lembaga Iptek di Indonesia dalam memberikan jasa-jasa pelayanan teknologi kepada perusahaan-perusahaan manufaktur masih jauh dari memadai. Dengan demikian, maka suatu kebijaksanaan untuk meningkatkan daya saing internasional perusahaan-perusahaan manufaktur Indonesia harus mengusahakan agar ketiga unsur dari KTN perlu diperbaiki dahulu, sebelum KTN ini dapat mendorong dan memungkinkan perusahaan-perusahaan manufaktur Indonesia untuk meningkatkan daya saing internasional mereka melalui pengembangan kemampuan teknologi.
Date: 2000
References: View complete reference list from CitEc
Citations:
Downloads: (external link)
https://lpem.org/repec/lpe/efijnl/200002.pdf (application/pdf)
Related works:
This item may be available elsewhere in EconPapers: Search for items with the same title.
Export reference: BibTeX
RIS (EndNote, ProCite, RefMan)
HTML/Text
Persistent link: https://EconPapers.repec.org/RePEc:lpe:efijnl:200002
Access Statistics for this article
More articles in Economics and Finance in Indonesia from Faculty of Economics and Business, University of Indonesia Contact information at EDIRC.
Bibliographic data for series maintained by Muhammad Halley Yudhistira ( this e-mail address is bad, please contact ).